Dusun Sukamaju dianugerahi tanah subur dan kearifan masyarakat dalam merawat aneka tanaman obat keluarga (TOGA) seperti jahe merah, kunyit, sereh wangi, dan temulawak. Namun selama bertahun-tahun, hasil panen melimpah tersebut lebih sering dijual mentah dengan harga rendah atau membusuk saat panen raya tiba.
Melalui dialog tatap muka dan pengamatan partisipatif, kami mendapati bahwa Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati memiliki kerinduan besar untuk mengolah hasil kebun mereka menjadi produk bernilai tambah. Kendala utamanya adalah keterbatasan peralatan higienis, ketiadaan standardisasi kemasan kedap udara, serta belum adanya pemahaman tentang pemasaran digital.
Kebutuhan Riil Masyarakat & Rumusan Masalah
- Ketahanan Produk: Olahan herbal basah tradisional hanya bertahan 2–3 hari tanpa pengawet higienis.
- Identitas & Kemasan: Produk belum memiliki merek dagang, informasi nilai gizi, dan izin edar yang layak.
- Akses Pasar: Penjualan masih bergantung pada pembeli keliling dusun, belum menyentuh ekosistem online.
Solusi Partisipatif yang Kami Tawarkan
Kami tidak hadir untuk mendikte, melainkan mendampingi secara bertahap melalui metode participatory action learning:
- Pelatihan teknik dehidrasi dan perajangan higienis menggunakan alat peniris dan pengering sederhana ramah energi.
- Pendampingan desain identitas visual kemasan ramah lingkungan dan legalitas izin P-IRT.
- Lokakarya literasi digital: pembuatan profil media sosial dan toko daring berbasis komunitas.